Tema: Menguatkan Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua
Sub Tema: Pembelajaran yang Adaptif dan Mendalam
Ketika Matematika Menjadi Dekat: Belajar dari Budaya, Memahami Kehidupan
Fitriyani, S.Pd., Gr.
Guru SMP Boarding School Putra Harapan Purwokerto
Jl. KS Tubun Gang Slobor Kober Purwokerto Barat.
Suatu siang sebelum setoran doa dan dzikir dimulai, saya mencoba bertanya kepada murid-murid satu per satu. “Sebentar lagi akan dilaksanakan ASAT (Asesmen Sumatif Akhir Tahun) 2026. Apakah masih ada yang merasa kesulitan dalam belajar?” tanya saya. Satu per satu murid mulai menjawab. Ada yang merasa kesulitan pada mata pelajaran tertentu dan ada pula yang mengaku kurang menyukai pelajaran tersebut. Namun, dari semua jawaban yang muncul, hampir seluruh murid menyampaikan hal yang sama: matematika masih menjadi pelajaran yang sulit dan menakutkan bagi mereka.
Sebagai guru bimbingan ibadah yang sekaligus mengampu mata pelajaran matematika, saya merasa tertantang. Mengapa matematika begitu dihindari? Padahal, matematika sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari situlah saya mulai berpikir bagaimana menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih mudah dipahami, menyenangkan, dan bermakna bagi murid.
Selama mengajar di kelas puncak, saya sempat berpikir bahwa cara terbaik menyampaikan materi adalah melalui pembelajaran langsung agar seluruh target materi cepat selesai sekaligus dapat mengulang kembali materi kelas sebelumnya. Cara itu telah saya lakukan bertahun-tahun. Namun, tahun ini saya mulai menyadari bahwa pembelajaran mendalam yang saat ini digaungkan pemerintah memang memiliki makna yang sangat penting. Murid tidak hanya dituntut memahami rumus, tetapi juga diajak merasakan bahwa pembelajaran memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.
Pembelajaran yang mendalam dapat dibangun melalui berbagai model pembelajaran seperti Pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, penemuan dan lain sebagainya yang mendorong pembelajaran menjadi mindful, meaningful, dan joyful. Namun lebih dari itu, guru juga perlu menghadirkan media dan pengalaman belajar yang dekat dengan lingkungan serta budaya sekitar murid. Dengan begitu, matematika tidak lagi terasa asing, melainkan menjadi bagian dari kehidupan yang mereka jumpai setiap hari.
Banyak konsep matematika sebenarnya sangat dekat dengan lingkungan dan budaya di sekitar murid. Pola pada batik seragam sekolah, bentuk bangunan dan artefak di lingkungan sekolah, ruang kelas, taman sekolah, maupun masjid dapat menjadi media belajar matematika yang nyata dan bermakna. Bahkan aktivitas sederhana seperti proses jual beli di kantin, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kebiasaan ibadah sehari-hari juga menyimpan konsep matematika yang sering tidak disadari.
Pembelajaran yang mengaitkan matematika dengan budaya dan kehidupan sehari-hari inilah yang dikenal dengan etnomatematika. Tokoh etnomatematika, Ubiratan D’Ambrosio, menjelaskan bahwa etnomatematika merupakan cara suatu kelompok budaya memahami dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Matematika tidak hanya hadir dalam buku pelajaran atau deretan rumus di kelas, tetapi juga hidup dalam aktivitas masyarakat seperti berdagang, membuat kerajinan, membangun rumah adat, hingga berbagai tradisi budaya lainnya.
Pernah diterapkan oleh seorang guru matematika yang mengajar materi geometri transformasi antara lain materi refleksi, translasi, dilatasi dan rotasi. Dulu beliau mengajarkan dengan cara menghafal rumus dan memberikan banyak soal-soal rutin terkait materi ini. Murid mampu mengerjakan soal dengan baik, tetapi suatu hari seorang murid bertanya, “Apa sebenarnya manfaat belajar materi ini, Bu? Saya bisa mengerjakan soalnya, tetapi belum memahami gunanya dalam kehidupan.” Pertanyaan sederhana itu menjadi bahan refleksi yang mendalam. Nilai yang tinggi ternyata belum tentu menunjukkan bahwa murid memahami makna pembelajaran yang sesungguhnya. Murid mungkin mampu menghafal rumus, tetapi belum benar-benar merasakan hubungan antara matematika dan kehidupan mereka.
Pada kesempatan berikutnya, guru mulai menggunakan keramik kelas untuk mendemonstrasikan materi geometri transformasi agar murid lebih mudah memahami konsep yang dipelajari. Hasilnya pun lebih baik dibanding sebelumnya. Pada tahun berikutnya beliau menerapkan model pembelajaran berbasis proyek dengan media lembar kerja peserta didik elektronik agar lebih sesuai dengan kebiasaan murid saat ini yang sangat dekat dengan smartphone. E-LKPD ini dibuat sedemikian rupa agar komunikatif dan langsung dapat berinteraksi dengan murid secara efektif. E-LKPD ini juga sangat relevan dengan zaman digital seperti saat ini. Produk dalam proyek ini adalah membuat batik baru untuk konsep batik sekolah masa depan dengan aturan refleksi, translasi, dilatasi dan rotasi.
Hasilnya sangat berbeda. Murid terlihat lebih antusias, bergembira, aktif berdiskusi, saling bekerja sama, muncul berbagai kreativitas, serta mulai menyadari hubungan antara aktivitas yang mereka lakukan dengan konsep matematika. Mereka tidak lagi sekadar menghafal rumus, tetapi memahami penerapannya dalam kehidupan nyata. Pembelajaran pun tidak hanya berpusat pada jawaban benar atau salah, melainkan pada proses berpikir dan kreativitas murid.
Suasana kelas yang sebelumnya cenderung pasif perlahan berubah menjadi lebih hidup. Murid yang biasanya takut bertanya mulai berani menyampaikan pendapat dan ide mereka. Mereka merasa lebih percaya diri karena belajar matematika tidak lagi hanya berisi hafalan rumus, tetapi juga berkaitan dengan budaya dan kehidupan yang mereka kenal setiap hari. Dari situlah saya menyadari bahwa pembelajaran yang bermakna mampu menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kedekatan murid terhadap ilmu yang dipelajari.
Pendidikan bermutu tidak hanya berbicara tentang nilai akademik, tetapi juga tentang bagaimana murid merasa dipahami dan belajar melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupannya. Sebagai guru, saya percaya matematika tidak harus menjadi pelajaran yang menakutkan. Melalui budaya, lingkungan, dan partisipasi berbagai pihak, pembelajaran yang adaptif dan bermakna dapat diwujudkan sehingga ilmu terasa lebih dekat dan dapat dirasakan oleh semua murid. Ketika pembelajaran matematika terasa bermakna, murid tidak hanya lebih memahami konsep, tetapi juga mampu meningkatkan kemampuan literasi numerasi yang menjadi bekal penting menuju Indonesia Emas 2045.
